Inilah Kisah Rumah yang Dihuni Keluarga Kanibal


Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (Mo Brothers), GENRE: Horor Thriller, DURASI: 95 menit, PEMAIN: Shareefa Danish, Imelda Therinne, Arifin Putra, Ruli Lubis, Julie Estelle, Ario Bayu, Sigi Wimala, Daniel Mananta, Dendy Subagil, Mike Lucock.

Cerita diawali dengan pertemuan adik-kakak antara Adjie (Ario Bayu) dan Ladya (Julie Estelle) di sebuah bar di Kota Bandung pada suatu malam. Adjie, sang kakak, sengaja mendatangi Ladya dengan niat berpamitan untuk bekerja di Australia.

Tetapi, hubungan kakak-beradik ini sebenarnya sudah tidak akur lagi sejak Ladya menuding Adjie adalah biang penyebab kematian kedua orangtuanya yang tewas dalam sebuah kecelakaan tragis di masa lalu.

Urung dimaafkan oleh sang adik, akhirnya Adjie bersama ketiga sahabatnya yang lain, Jimi (Daniel Mananta), Eko (Dendy Subagil), dan Alam (Mike Lucock) berniat langsung kembali ke Jakarta pada malam itu juga. Namun, beruntung berkat bujukan istri Adjie, Astrid (Sigi Wimala), Ladya akhirnya mau ikut ke Jakarta untuk mengantar kakaknya berangkat ke bandara.

Baru saja rombongan itu akan meninggalkan lapangan parkir, mendadak mobil yang dikemudikan Jimi nyaris menabrak Maya (Imelda Therinne), sosok perempuan misterius yang tiba-tiba muncul di moncong mobil keenam orang asal Jakarta itu.

Melihat kondisi Maya yang tampak shock dan muram akibat dirampok, tanpa dikomando Eko langsung turun dari mobil dan menawarkan tumpangan kepada Maya untuk diantarkan pulang. Dengan reaksi Eko seperti itu, pada awalnya kelima rekannya tidak setuju untuk mengantarkan Maya, tetapi lagi-lagi dengan wajah pucatnya, Maya berhasil meluluhkan hati seisi mobil mini van tersebut.

Tanpa curiga, Maya akhirnya ikut rombongan itu yang bersedia mengantarnya hingga ke rumahnya di daerah terpencil antara Kabupaten Subang dan Purwakarta. Sesampainya di rumah Maya, gadis malang itu mengenalkan Adjie beserta istri, adik, dan ketiga sahabatnya itu kepada perempuan anggun nan misterius bernama Dara (Shareefa Danish) sebagai kepala keluarga di rumah tua yang ada di tengah hutan jati itu.

Layaknya tuan rumah kebanyakan, Dara dengan bujuk rayunya berupaya menahan rombongan tersebut untuk mau dijamu makan malam dan beristirahat sejenak di rumahnya. Bukan maksud hati enggan menolak tawaran Dara, dengan perut yang terasa lapar mendera, akhirnya Eko, Alam, dan Jimi sepakat untuk menerima tawaran Dara.

Namun, tidak begitu dengan Ladya dan Adjie, sejak awal kakak beradik yang tidak akur ini mempunyai firasat buruk, tetapi dengan kondisi Astrid yang kelelahan karena tengah hamil delapan bulan memaksa Adjie dan Ladya ikut mengalah.

Jamuan makan malam pun di mulai, Ladya, Jimi, Eko, dan Alam dengan nikmatnya melahap segala hidangan yang tersedia di atas meja makan yang disajikan si empunya “Rumah Dara”. Sebotol wine berkualitas dan makanan daging olahan nyaris tak tersisa dilahap keempat tamu Dara itu tanpa mengetahui daging apa yang sesungguhnya mereka makan.

“Hmm… enak daging ini beda rasanya,” kata Ladya. “Wah masakan rumah ini enggak kalah sama restoran bintang lima,” timpal Jimi memuji masakan yang disajikan oleh Dara pada sebuah malam yang diguyur hujan lebat.

Sial, belum lagi santapan di piring ludes, keempat tetamu asal Jakarta itu pun langsung tak sadarkan diri. Melihat tamunya terkulai pingsan, Dara langsung memerintahkan Maya, Adam (Arifin Putra), dan Armand (Ruli Lubis) untuk mengikat mereka berempat. Sementara Adjie dan Astrid di kuncinya di dalam kamar.

Tak ayal, pembantaian berdarah pun dimulai. Armand bertindak sebagai tukang jagal tanpa basa-basi langsung mengeksekusi Alam dengan chainsaw (gergaji mesin) sebagai korban pertama dari kekejaman yang terjadi di “Rumah Dara”. Dengan santai dan ekspresi yang dingin, si tukang jagal itu mulai memutilasi korbannya dengan chainsaw di genggaman tangannya. Adegan berdarah dan sadis pun mulai disodorkan.

Film garapan sutradara kakak-beradik Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (Mo Brothers), ini menyuguhkan ketegangan luar biasa tanpa batas. Adegan-adegan berdarah tak pernah luput dari tontonan yang berdurasi 95 menit ini. Timo dan Kimo mengklaim telah menghabiskan 11 galon darah hewan dan darah sintetis untuk menggarap film panjang pertama mereka setelah membuat film pendek “Sendiri” (2003) dan film pendek slasher “Dara” (2007).

“Rumah Dara” menjadi awal mula penjajakan kreatif mereka di ranah genre horor Asia yang masih konvensional dengan film yang mencoba menguak siapakah Dara sebenarnya? Apakah yang diinginkan sosok-sosok lain di dalam rumah yang berada di tengah hutan jati itu? Bagaimana dengan nasib Adjie, Ladya, Astrid, Jimi, Eko, dan bayi yang tengah dikandung Astrid? Temukan jawabannya pada 22 Januari 2010, di bioskop kesayangan Anda.

About Den Bagoes

Satu detik waktu ke depan, adalah sebuah angan... Satu detik waktu berjalan, meraih sebuah kenyataan.... Satu detik waktu kebelakang, tinggalah sebuah kenangan.... Manfaatkanlah waktumu...

Posted on 18 Januari 2010, in Film, Hiburan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: