Rp30Miliar, Pemborosan TransJakarta Tiap Tahunnya


JAKARTA (Pos Kota) – Memasuki tahun keenam dioperasionalkannya busway, pelayanan moda angkutan massal tersebut masih minim. Bahkan setiap tahunnya telah terjadi pemborosan sekitar Rp30 milyar di tubuh angkutan yang dibangun pada 2004 itu.

Tudingan tersebut dilayangkan, Institut Study Transportasi (INTRAN), yang menyatakan beberapa masalah masih harus dibenahi terutama masalah pelayanan. Diantaranya masalah jarak waktu kedatangan antarbus (headway), kepadatan penumpang, infrastruktur, kemacetan , serta tingakt kejahatan yang masih terjadi di dalam bus tersebut.

Tidak hanya itu akibat minimnya sarana pendukung juga ditenggarai telah menyebabkan pemborosan di busway yang ditaksir mencapai Rp30 milyar setiap tahunnya. Menurut Izzul Waro, staf ahli INTRAN, perhitungan menguapnya uang puluhan milyar tersebut diantaranya disebabkan minimnya jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang sampai saat ini baru tiga unit yakni di Jalan Perintis Kemerdekaan, Jalan Pemuda dan dan di Rawa Buaya.

Akibatnya armada yang harus mengisi bahan bakarnya harus menempuh waktu yang cukup lama dan membuang sia-sia bahan bakar yang ada.

Hal lainnya yakni masalah jumlah petugas di setiap halte. Izzul menilai efisiensi dapat dilakukan seandainya pemprov dalam hal ini Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta mau menerapkan sistem electronic ticketing. “Sehingga petugas tidak lagi perlu banyak di setiap halte hanya cukup dua petugas, sehingga efisiensi anggaran untuk menggaji petugas bisa dilakukan,” tandas Izzul dalam diskusi bertema Enam Tahun Busway Transjakarta Berjalan Mundur, Kamis (14/1).

Bukan hanya efisiensi anggaran, namuan seandainya sistem electronic ticketing diterapkan, pengawasan terhadap pemasukan busway setiap harinya dapat terkontrol. Pasalnya diakui Izzul sampai saat ini tidak ada satupun yang mengetahui angka pasti pemasukan busway setiap harinya.

Indikasi pemborosan lainnya yakni mengenai masalah pencetakan tiket yang di beberapa koridor masih menerapkan sistem manual. Artinya setiap calon penumpang memperoleh tiket saat akan masuk ke halte. “Dengan sistem electronic ticketing pemprov tidak perlu lagi mencetak tiket masuk yang memakan banyak uang,” sambungnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Darmaningtyas, Direktur Eksekutif INTRAN, mengungkapkan masih banyak pembenahan yang harus dilakukan dalam meingkatkan kualitas busway. Untuk itu ia menolak jika tarif busway dinaikkan.

“Kenaikan tariff harus sesuai dengan pelayanan yang optimal. Sehingga masyarakat pengguna dapat memaklumi kebijakan tersebut,” ujar Darmaningtyas.

About Den Bagoes

Satu detik waktu ke depan, adalah sebuah angan... Satu detik waktu berjalan, meraih sebuah kenyataan.... Satu detik waktu kebelakang, tinggalah sebuah kenangan.... Manfaatkanlah waktumu...

Posted on 15 Januari 2010, in Berita Lokal and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: