Seorang petani dipidanakan gara-gara mencuri satu buah semangka…


Kejaksaan Negeri Kediri tetap memproses berkas pemeriksaan Basar Suyanto dan Kholil yang diserahkan polisi meskipun perkaranya hanya mencuri sebuah semangka.

Hal itu disampaikan Kepala Sub Bagian Pembinaan Kejari Kediri, Agus Eko Purnomo, dihubungi di Kediri, Kamis (26/11).

Menurut dia, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) sudah mengatur syarat sebuah perkara meskipun kecil nilainya. “Mestinya kasus seperti itu bisa diselesaikan di tingkat kepolisian,” ujarnya.

Agus Eko Purnomo mengatakan pemidanaan kepada Basar Suyanto dan Kholil atas kasus pencurian sebuah semangka secara materil dan formil telah memenuhi unsur pencurian yang diatur dalam pasal 362 KUHP.

Karena itu tidak ada alasan bagi kejaksaan untuk menolak berkas perkara yang diajukan kepolisian. “Perbuatannya sudah memenuhi unsur KUHP,” kata Agus Eko.

Hanya saja yang menjadi persoalan adalah nilai barang curian yang dinilai terlalu kecil. Menurut Agus, KUHP hanya mengatur tindak pidana pencurian dalam dua kategori, yakni pencurian ringan dan pencurian biasa.

Pencurian biasa adalah nilai kerugiannya di atas Rp 250. Sedang pencurian ringan di bawah itu. Nilai kerugian tersebut, menurut Agus, sudah tercantum secara tegas dalam KUHP dan tidak dapat diganggu gugat.

Karena itu Agus menyarankan dilakukannya revisi sejumlah pasal dalam KUHP yang dinilai sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sebab nilai ekonomis dalam kerugian pencurian yang tercantum sudah tidak sesuai dengan kondisi kekinian. ”KUHP kita terakhir direvisi tahun 1960,” kata Agus.

Untuk menghindari jatuhnya korban pemidanaan seperti yang menimpa Basar dan Kholil, Agus menyarankan dilakukannya mediasi saat dilaporkan ke polisi. Hal itu akan cukup membantu para pelaku kejahatan yang terjerat tindak pidana kecil.

Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia Kediri, Nurbaidah, mendesak Kejaksaan lebih arif dalam menangani perkara seperti itu. Seharusnya kejaksaan bisa menolak berkas perkara tersebut untuk diselesaikan secara kekeluargaan di tingkat kepolisian. ”Jaksa bertanggung jawab juga untuk memediasi,” katanya.

Dia sepakat dengan usulan revisi pasal-pasal KUHP yang dinilai sudah tidak sesuai perkembangan zaman. Sebab hukum tersebut merupakan produk Belanda.

*Vivanews

About Den Bagoes

Satu detik waktu ke depan, adalah sebuah angan... Satu detik waktu berjalan, meraih sebuah kenyataan.... Satu detik waktu kebelakang, tinggalah sebuah kenangan.... Manfaatkanlah waktumu...

Posted on 26 November 2009, in Hukum & Kriminal and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Negeri ini memang selalu penuh ironi. Salah satu contoh terbaru adalah bagaimana para ‘pencuri’ kelas teri mendapat hukuman yang kurang setimpal dengan perbuatannya. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh para pencuri ‘koruptor’ kelas kakap yang banyak menghilangkan miliaran uang rakyat.
    Sungguh sebuah fakta yang menyesakan dada. Mudah-mudahan di kemudian hari hal seperti tidak terjadi lagi. Hukuman harus diberikan dengan seadil-adilnya, sesuai dengan beratnya kesalahan yang dilakukan.
    Cara Membuat Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: