Rani kunci pembuka aib…


Hari ini sidang pembunuhan Direktur Putra Rajawali Banjaran (PRB), Nasruddin Zulkarnaen, kembali digelar di PN Jaksel, dengan menghadirkan Rani Juliani, 23, sebagai saksi.

Masyarakat sangat menantikan kesaksian yang bakal keluar dari mulut caddy golf cantik ini. Pasalnya, Rani disebut-sebut mempunyai posisi penting dalam kasus yang akhirnya membuka kasus-kasus besar hingga berbuntut perseteruan antarlembaga penegak hukum di negeri ini.

Konflik Polri-KPK yang berkembang akhir-akhir ini ternyata memiliki benang merah dengan kasus pembunuhan Nasruddin. Rhani yang dipersisteri secara siri oleh Nasrudin sadar atau tidak kemudian telah membuka aib-aib lain di tubuh penegak hukum di luar kasus asmara itu sendiri.

*Poskota

“Istilahnya, kalau tidak ada perempuan muda itu bisa jadi kasus besar yang lalu membuat Presiden SBY ikut turun tangan dan membentuk tim pencari fakta dalam kasus Bibit dan Samad, tidak akan mungkin muncul,” ujar Boyamin Saiman, Koordinator Masyarakat Anti Korupsi (MAKI).

Sebagaimana diketahui, Antasari yang dituding mendalangi pembunuhan ini kemudian melemparkan bola panas melalui testimoninya yang mengejutkan.

Testimoni itu berisi, dugaan penyuapan oleh Anggoro melalui adiknya Anggodo Widjojo sebesar Rp6,1 miliar kepada pimpinan KPK (kini non aktif) Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah. Anggoro (Dirut PT Masaro Radiocom) adalah tersangka kasus Sistem Komunikasi Terpadu di Dephut senilai Rp180 miliar. Hal itu dilakukan Antasari konon karena dia merasa dibiarkan sendiri oleh koleganya di KPK menghadapi tuduhan pembubuhan tersebut.

Bibit dan Chandra yang ‘kebakaran jenggot’ lalu balik melaporkan Antasari ke Polri karena telah menemui Anggoro Widjojo di Singapura bersama Edy Soemarsono. Mereka menilai telah terjadi pelanggaran kode etik KPK.

Namun, saat upaya itu dilakukan, Mabes Polri keburu menjerat Bibit dan Chandra dengan sangkaan penyalahgunaan kewenangan dan suap kasus PT Masaro, yang terakhir diubah penyidik menjadi pemerasan, seperti diatur pasal 12 (1) huruf e UU No 31/1999.

BANK CENTURY

Merasa dipojokkan atas perbuatan yang tidak dilakukan, Bibit dan Samad lalu mengeluarkan pernyataan soal adanya hasil penyadapan tentang suap Rp10 miliar atas jasa seorang petinggi Polri mencairkan deposito milik nasabah Century di antaranya Budi Sampurna dan rekaman tentang dugaan rekayasa terhadap mereka berdua.

Namun kasus dugaan suap Rp10 miliar ini tidak keburu diusut, begitu juga kasus rekaman yang sudah tersebar luas itu. Pasalnya Bibit dan Samad telah lebih dulu dijadikan tersangka dan dijebloskan ke Rutan Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Sebaliknya, kasus Bank Century diambil-alih penanganannya oleh Mabes Polri soal tindak pidana perbankan, sementara Kejaksaan Agung menanganani tindak pidana khusus. Bahkan pagi-pagi kejaksaan agung menyatakan kasus pengucuran dana talangan itu tidak ditemukan cukup bukti.

Kini, kasus ini menjadi polemik dahsyat di tengah masyarakat. Sebab rekaman sudah tersebar luas dan menyebut-nyebut nama petinggi negeri ini. Elit politk pun lagi-lagi kebakaran jenggot dan melalui Polri akan menyita rekaman itu.

Perseteruan KPK-Polri pun memanas. Masyarakat menggulirkan dukunganannya kepada KPK secara meluas hingga membuat Presiden memanggil empat tokoh untuk mencari solusinya dan kemudian membentuk tim pencari fakta.

“Bagi saya, ini tidak mengangetkan, sebab sedari awal pokok persoalannya sebenarnya masalah Bank Century. Ini menyangkut kekuasaan. Jadi apa saja akan dilakukan oleh penguasa,” tukas Boyamin.

RANI JADI SAKSI

Rhani sendiri hari ini akan dimintai keterangannya sebagai saksi pembunuhan suami sirinya Nasruddin Zulkarnaen. Rhani yang dikabarkan biasa mendapatkan tips hingga jutaan sebagai caddy ini disebut sebut dalam dakwaan, antara lain bertemu Antasari, Mei tahun lalu di kamar 803 Hotel Grand Mahakam.

Di tempat itu, Antasari dituding melakukan pelecehan seksual pada mahasiswi STMIK Raharja, Tangerang itu. Antasari juga disebut-sebut memberikan sejumlah uang pada Rhani masing-masing sebesar 300 dolar AS dan 500 dolar AS.

Rani disebutkan meminta bantuan Antasari selaku Ketua KPK supaya membantu pelantikan suaminya menjadi direktur di PT. Rajawali Nusantara Indonesia.

About Den Bagoes

Satu detik waktu ke depan, adalah sebuah angan... Satu detik waktu berjalan, meraih sebuah kenyataan.... Satu detik waktu kebelakang, tinggalah sebuah kenangan.... Manfaatkanlah waktumu...

Posted on 3 November 2009, in Hukum & Kriminal, Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: