Memburu jejak tersangka teroris Ali Mohammed…


Ali Muhammad, orang yang disebut-sebut mendanai peledakan Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, diduga warga Amerika Serikat berkebangsaan Mesir. Dugaan didasari atas temuan dokumen paspor yang dikeluarkan pemerintah AS.

Data pada paspor yang dikeluarkan 20 Desember 1989 menyebutkan Ali lahir 3 Juni 1952. Pada tahun 80-an, dia menjadi warga AS setelah menikahi perempuan asal Santa Clara, California.

Tak lama setelah menikah, Ali masuk Angkatan Darat AS dan bertugas sebagai instruktur. Ali menjadi pelatih para pejuang Mujahidin di perbatasan Afghanistan-Pakistan.

Ali dicokok tim Detasemen Khusus 88, persis satu bulan usai peledakan JW Marriott dan Ritz Carlton. Mulanya dia diduga warga Arab Saudi. Belakangan itu dibantah Dubes Arab Saudi Abdul Rahman Al Hayat. Menurut dia, Ali bukan warga Arab.

Polisi menduga Ali adalah kaki tangan Al Qaeda yang mendanai terorisme di Indonesia. Dari Ali pula Syaifudin Zuhri alias Syaifudin bin Jaelani disebut-sebut memperoleh kucuran dana.

Sementara dari rekam jejak Al Qaeda, nama Ali merujuk pada asisten Osama bin Laden, pentolan kelompok teroris paling berbahaya di dunia. Ali pernah punya jabatan penting di Angkatan Darat Mesir berpangkat mayor.

Kiprah Ali mulai terendus lewat penangkapan Muhammad Jibril alias Muhammad Ricky Ardhan. Dia bersama Muhammad Jibril diketahui pernah berduet menggalang dana dari luar negeri untuk meledakkan JW Marriot dan Ritz Carlton.

Ali dan Muhammad Jibril diduga berperan mencairkan dana sebesar Rp 2 miliar yang berasal seorang donator di Arab Saudi. Duit lalu dikucurkan ke tangan Syaifudin Zuhri, koordinator peladakan bom Marriot dan Ritz Carlton.

Dugaan ini diperkuat dari nomor seri uang pembayaran di Marriot. Polisi menyimpulkan dollar yang dicairkan cuma beredar di kawasan Timur Tengah.

Komunikasi antara Ali dan Syaifuddin juga cukup terjaga. Mereka pernah bertemu saat Lebaran Haji 2008 di rumah Syaifudin di Telaga Kahuripan, Bogor, Jawa Barat. Satu tahun kemudian mereka kembali bertemu. Ali hendak memastikan Syaifudin sudah mendapat dana Rp 2 miliar.

Juni 2009, Ali juga pernah menyewa rumah di Desa Cirendang, Kuningan, Jawa Barat. Dia mengaku sebagai turis. Rentang antara Februari-Juni 2009, Ali pun pernah terlihat di Caringin, Bogor dan lokasi outbond di daerah Gunung Bunder, Ceruk Nangka, Jabar.

Ali pun pernah menggelar pertemuan dengan Noordin Mohamad Top dan Syaifudin di Pondok Jaya, Mampang, Jakarta Selatan, April silam. Mereka membahas kepastian rencana pengeboman Marriot.

Syaifudin dan Noordin sudah tewas didor. Sementara Ali, bila benar seperti yang disebut di atas, bukan tak mungkin dia adalah sumber penting buat mengungkap jaringan terorisme internasional di Indonesia.

*MetroTV

About Den Bagoes

Satu detik waktu ke depan, adalah sebuah angan... Satu detik waktu berjalan, meraih sebuah kenyataan.... Satu detik waktu kebelakang, tinggalah sebuah kenangan.... Manfaatkanlah waktumu...

Posted on 17 Oktober 2009, in Hukum & Kriminal, Politik and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: